Minggu, 13 November 2016

KADAR KARBOHIDRAT DAN KADAR AIR DALAM SAMPEL MIE INSTAN



BAB I
                                        PENDAHULUAN
     
        A.   Judul Penetapan    :
1.    Penenetapan Kadar Karbohidrat Metode Luff.
2.    Penenetapan Kadar Air.
Tujuan Penetapan :
1.    Untuk mengetahui kadar karbohidrat yang terkandung dalam sampel mie instant menggunakan metode luff.
2.    Untuk mengetahui kadar air dalam sampel mie instan indomie.
 Dasar Prinsip          :
1.    Polisakarida dihidrolisis ole asam (HCl) membentuk monosakarida, kemudian dioksidasi oleh larutan luff sehingga larutan luff mengalami reduksi ( merah bata ), kelebihan luff direduksi lagi dengan KI dalam suasana asam dan membebaskan I2, Iod yang trbentuk dititrasi sengan larutan tio sehingga titik akhir tercapai.
2.    Sampel dipanaskan pada suhu 105ºC sehingga melepaskan air, kehilangan bobot pada proses pemanasan diitung sebagai bobot air.
Reaksi                                   :
Reaksi kadar karbohidrat
         (C6H10O5)n + nH2O                      nC6H12O6
         C6H12O6 + 2CuO                          Cu2O + C5H11O5 + COOH
          Sisa CuO + 2KI + H2SO4   →         CuI2 + K2SO+ H2O
          Cu2I2                                               C2I2 + I2
         I2 + Na2S2O3                                  2NaI + Na2S4O





B.   Landasan Teori                       :
1.    Landasan teori penentuan kadar karboidrat
Karbohidrat
Karbohidrat merupakan persenyawaan antara karbon, hidrogen dan oksigen yang terbentuk di alam dengan rumus umum Cn(H2O)n. Melihat rumus empiris tersebut, maka senyawa ini dapat diduga sebagai ”hidrat dari karbon”, sehingga disebut karbohidrat. Rumus empiris seperti itu tidak hanya dimiliki oleh karbohidrat melainkan juga oleh hidrokarbon seperti asam asetat. Oleh karena itu suatu senyawa termasuk karbohidrat tidak hanya ditinjau dari rumus empirisnya saja, tetapi yang paling penting ialah rumus strukturnya. Dari rumus struktur akan terlihat bahwa ada gugus fungsi penting yang terdapat pada molekul karbohidrat yaitu gugus fungsi karbonil (aldehid dan keton). Gugus-gugus fungsi itulah yang menentukan sifat senyawa tersebut. Berdasarkan gugus yang ada pada molekul karbohidrat, maka senyawa tersebut didefinisikan sebagai polihidroksialdehida dan polihidroksiketon (Tim Dosen Kimia, 2011).
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid/keton dengan rumus empirik (CH2O)n. Karbohidrat digolongkan sebagai monosakarida atau gula (satu unit aldehida/keton); oligosakarida (beberapa unit monosakarida); dan polisakarida, molekul besar linear atau bercabang yang mengandung banyak unit mosakarida. Monosakarida atau gula sederhana memiliki satu unit aldehida atau keton. Golongan ini juga mempunyai sedikitnya satu atom karbon asimetrik, dan karenanya terdapat dalam bentuk stereoisomer. Gula yang paling banyak terdapat di alam, seperti ribose, glukosa, fruktosa dan monosakarida adalah rangkaian gula D. Gula sederhana dengan 5 atau lebih atom karbon dapat berada dalam bentuk cincin-tertutup hemiasetal, sebagai furanosa (cincin beranggota-lima) atau piranosa (cincin beranggota-enam). Furanosa dan piranosa terdapat dalam proses mutarotasi. Gula yang dapat mereduksi senyawa oksidator disebut gula pereduksi (Lehninger, 1997).
Karbohidrat adalah zat organik utama yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya mewakili 50 sampai 75 persen dari jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak. Karbohidrat sebagian besar terdapat dalam biji, buah dan akar tumbuhan. Zat tersebut terbentuk oleh proses fotosintesis, yang melibatkan kegiatan sinar matahari terhadap hijauan daun. Hijauan daun merupakan zat fotosintetik aktif pada tumbuh-tumbuhan. Zat tersebut merupakan molekul yang rumit dengan suatu struktur yang serupa dengan struktur hemoglobin, yang terdapat dalam darah hewan. Hijauan daun mengandung magnesium : hemoglobin mengandung besi. Lebih terperinci lagi, karbohidrat dibentuk dari air (H2O) berasal dari tanah, karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan energi berasal dari matahari. Suatu reaksi kimiawi sederhana yang memperlihatkan suatu karbohidrat (glukosa) disintesis oleh fotosintesis dalam tumbuh-tumbuhan adalah sebagai berikut (Lakitan, 2007):
6CO2 + 6H2O + 673 cal —-> C6H12O+ 6 O2
Karbohidrat adalah senyawa yang menyimpan energi kimia yang juga merupakan sumber energi utama bagi makhluk hidup. Pada hewan dan manusia energi tersebut disimpan dalam bentuk glikogen sedangkan pada tumbuhan dalam bentuk pati. Selain itu, karbohidrat dapat disimpan dalam bentuk selulosa, hemiselulosa, pektin, khitin, dan lignin yang merupakan kerangka makhluk hidup (misalnya; selulosa yang terdapat pada dinding sel hewan berperan sebagai komponen utama dinding sel tumbuhan, dan peptidoglikan terdapat di dinding sel bakteri). Secara umum, karbohidrat digolongkan menjadi tiga yaitu monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Namun, seringkali oligosakarida digolongkan ke dalam polisakarida (Anonim, 2011)
Ditinjau dari segi gizi, karbohidrat merupakan segolongan senyawa-senyawa penting karena merupakan sumber energi yang palin ekonomis da paln tersebar luas. Bahan pangan yang dihasilkan di dunia sebagian terbesar terdiri dari bahan pangan yang kaya akan karbohidrat.
Metode Luff Schoorl adalah berdasarkan proses reduksi dari larutan Luff Schoorl oleh gula-gula pereduksi (semua monosakarida, laktosa dan maltosa). Hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida yang dapat mereduksikan Cu2+ menjadi Cu1+.
Gula reduksi Luff Schoorl
        Cu2+     +          4 I-                       CH2I2             I2
        I2            +         2 NaS2               2 NaI   +    Na2S4O2
Sukrosa tidak memiliki sifat-sifat mereduksi, karena itu untuk menentukan kadar sukrosa harus dilakukan inversi terlebih dahulu menjadi glukosa dan fruktosa.
Dalam hal ini kadar sukrosa harus diperhitungkan dengan faktor 0,95 karena pada hidrolisis sukrosa berubah menjadi gula invert.
        C12H22O11        +          H2O     →        2C6H12O6
          Sukrosa                                              gula reduksi
Karbohidrat terdiri dari bermacam-macam dan menurut ukuran molekul dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu
1     Monosakarida, karbohidrat yang paling sederhana susunan molekulnya dan tidak diuraikan lagi. Golongan ini yaitu glukosa dan fruktosa.
2     Disakarida, karbohidrat yang terdiri dari 2 molekul monosakarida. Golongan ini yaitu sukrosa, maltosa dan laktosa.
3     Polisakarida, karbohidrat yang terdiri dari banyak molekul monosakarida. Golongan ini yaitu patim glikogen dan selulosa

Penentuan Karbohidrat dengan Metode Luff Schoorl
Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut :
R-CHO + 2 Cu2+                    R-COOH + Cu2O
2 Cu2+ + 4 I-                            Cu2I2 + I2
2 S2O32- + I2                            S4O62- + 2 I-

Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno 2007). I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen.
Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Rivai, 2005).
Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu dengan penentuan Cu tereduksi dengan I2 dan menggunakan prosedur Lae-Eynon (Anonim 2009).
Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.
Mie Instan
Mie instan adalah sebuah produk yang dibuat dari  tepung gandum ataupun tepung beras sebagai bahan utamanya dengan atau tanpa  penambahan bahan lainnya. Karakterisasi didapat dari proses pregelatinisasi dan dehidrasi menggunakan metode penggorengan ataupun metode lainnya (Codex, 2006).
Protein dalam tepung berpengaruh pada jenis dan kualitas produk akhir, mie instan biasanya terbuat dari tepung dengan protein 7-9.5%. Tidak hanya kualitas protein yang berpengaruh, namun asal dari protein juga dapat menentukan kekuatan dari viskoelastis glutein yang akan menghasilkan produk yang kenyal. Elastisitas dari mie berpengaruh pada proses pembuatan mie. Kandungan abu bervariasi dari 0.40-0.54%. Kandungan lemak tergantung pada target pasar mulai dari 12-20% (Owen, 2001).
Mie instan memiliki keunikan pada bentuk gelombangnya. Gelombang yang ada pada produk mie instan memiliki fungsi untuk memaksimalkan proses pengukusan yang kemudian digoreng sebagai helaian mie yang dipisahkan. Proses penggorengan mie pada minyak yang panas akan membuat air dalam mie menguap sehingga menghasilkan struktur yang berlubang-lubang pada bagian dalam mie. Tekstur ini yang membuat mie mudah mengalami proses hidrasi dan pemasakan (Owen, 2001). Berikut adalah syarat mutu mie instan menurut SNI.
Tabel Syarat mutu mie instan menurut SNI (2009).
No
Kriteria Uji
Satuan
Persyaratan
1
1.1
1.2
1.3
1.4
2
3
4
4.1
4.2
5
5.1
Keadaan
Tekstur
Aroma
Rasa
Warna
Benda asing
Keutuhan
Kadar air
Proses penggorengan
Proses pengeringan
Kadar Protein
Mi dari terigu
-
-
-
-
-
%bb
%bb
%bb
%bb
Normal/dapat diterima
Normal/dapat diterima
Normal/dapat diterima
Normal/dapat diterima
Tidak boleh ada
Min, 90
Maks, 10,0
Maks 14,5
Min, 8,0
5.2
6
7
Mi bukan dari terigu
Bilangan asam
Cemaran Logam
%bb
Mg KOH/g minyak
Min, 4,0
Maks, 20
7.1
7.2
8
9
9.1
9.2
9.3
9.4
Timbal (Pb)
Raksa (Hg)
Arsen (As)
Cemaran mikroba
Angka lempengan total
E.coli
Salmonela
Kapang

mg/kg
mg/kg
mg/kg
koloni/g
APM/g
koloni/g
Maks, 20
Maks, 0,05
Maks, 0,5
Maks, 1.0 x 106
< 3
Negatif per 25 g
Maks, 1.0 x 106
Sumber: SNI 3751:2009 Tepung Terigu Sebagai Bahan Makanan



2.    Landasan teori penentuan kadar air
Pengertian Air dan Sifat – Sifat Air.
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.
Molekul air dapat diuraikan menjadi unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik. Proses ini disebut elektrolisis air. Pada katoda, dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida (OH). Sementara itu pada anoda, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4 ion H+serta mengalirkan elektron ke katoda. Ion H+ dan OH mengalami netralisasi sehingga terbentuk kembali beberapa molekul air. Reaksi keseluruhan yang setara dari elektrolisis air dapat dituliskan sebagai berikut.
Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat “hidrofilik” (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air (misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat “hidrofobik” (takut-air). Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan akan mengendap dalam air.
Air menempel pada sesamanya (kohesi) karena air bersifat polar. Air memiliki sejumlah muatan parsial negatif (σ-) dekat atom oksigen akibat pasangan elektron yang (hampir) tidak digunakan bersama, dan sejumlah muatan parsial positif (σ+) dekat atom oksigen. Dalam air hal ini terjadi karena atom oksigen bersifat lebih elektronegatif dibandingkan atom hidrogen—yang berarti, ia (atom oksigen) memiliki lebih “kekuatan tarik” pada elektron-elektron yang dimiliki bersama dalam molekul, menarik elektron-elektron lebih dekat ke arahnya (juga berarti menarik muatan negatif elektron-elektron tersebut) dan membuat daerah di sekitar atom oksigen bermuatan lebih negatif ketimbang daerah-daerah di sekitar kedua atom hidrogen.Air memiliki pula sifat adhesi yang tinggi disebabkan oleh sifat alami kepolarannya.
Air memiliki tegangan permukaan yang besar yang disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul air. Hal ini dapat diamati saat sejumlah kecil air ditempatkan dalam sebuah permukaan yang tak dapat terbasahi atau terlarutkan (non-soluble); air tersebut akan berkumpul sebagai sebuah tetesan. Di atas sebuah permukaan gelas yang amat bersih atau bepermukaan amat halus air dapat membentuk suatu lapisan tipis (thin film) karena gaya tarik molekular antara gelas dan molekul air (gaya adhesi) lebih kuat ketimbang gaya kohesi antar molekul air.
Dalam sel-sel biologi dan organel-organel, air bersentuhan dengan membran dan permukaan protein yang bersifat hidrofilik; yaitu, permukaan-permukaan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap air.

Bentuk dan Tipe Air dalam Suatu Bahan
Air yang terdapat dalam suatu bahan makanan terdapat dalam tiga bentuk:
1.    Air bebas, terdapat dalam ruang-ruang antarsel  dan intergranular dan pori-pori yang terdapat pada bahan.
2.    Air yang terikat secara lemah karena terserap (teradsorbsi) pada permukaan koloid makromolekulaer seperti protein, pektin pati, sellulosa. Selain itu air juga terdispersi di antara kolloid tersebut dan merupakan pelerut zat-zat yang ada di dalam sel. Air yang ada dalam bentuk ini masih tetap mempunyai sifat air bebas dan dapat dikristalkan pada proses pembekuan. Ikatan antara air dengan kolloid tersebut merupakan ikatan hidrogen.
3.    Air yang dalam  keadaan  terikat kuat yaitu membentuk hidrat. Ikatannya berifat ionik sehingga relatif sukar dihilangkan atau diuapkan. Air ini tidak membeku meskipun pada suhu 0o F.

Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan kesegaran dan daya tahan bahan itu sendiri.  Sebagian besar dari perubahan-perubahan bahan makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau berasal dari bahan itu sendiri.  Menurut derajat keterikatan air dalam bahan makanan atau bound water dibagi menjadi 4 tipe, antara lain :
1.    Tipe I adalah tipe molekul air yang terikat pada molekul-molekul air melalui suatu ikatan hydrogen yang berenergi besar.  Molekul air membentuk hidrat dengan molekul-molekul lain yang mengandung atom-atom O dan N seperti karbohidrat, protein atau garam.
2.    Tipe II adalah tipe molekul-molekul air membentuk ikatan hydrogen dengan molekul air lain, terdapat dalam miro kapiler dan sifatnya agak berbeda dari air murni.
3.    Tipe III adalah tipe air yang secara fisik terikat dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat dan lain-lain.  Air tipe inisering disebut dengan air bebas.
4.    Tipe IV adalah tipe air yang tidak terikat dalam jaringan suatu bahan atau air murni, dengan sifat-sifat air biasa.(F.G. Winarno, 1999 : 3 – 14)



Kadar Air Dalam Bahan Makanan
Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara di sekitarnya. Kadar air bahan ini disebut dengan kadar air seimbang. Setiap kelembaban relatif tertentu dapat menghasilkan kadar air seimbang tertentu pula. Dengan demikian dapat dibuat hubungan antara kadar air seimbang dengan kelembaban relatif.
Aktivitas air dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Aw                        = ERH/100   
Aw                       = aktivitas air
ERH          = kelembaban relatif seimbang
Bila diketahui kurva hubungan antara kadar air seimbang dengan kelembaban relatif pada hakikatnya dapat menggambarkan pula hubungan antara kadar air dan aktivitas air. Kurva ini sering disebut kurva Isoterm Sorpsi Lembab (ISL). Setiap bahan mempunyai ISL yang berbeda dengan bahan lainnya. Pada kurva tersebut dapat diketahui bahwa kadar air yang sama belum tentu memberikan Aw yang sama tergantung macam bahannya. Pada kadar air yang tinggi belum tentu memberikan Aw yang tinggi bila bahannya berbeda. Hal ini dikarenakan mungkin bahan yang satu disusun oleh bahan yang dapat mebgikat air sehingga air bebas relatif menjadi lebih kecil dan akibatnya bahan jenis ini mempunyai Aw yang rendah.
Penentuan Kadar Air Dalam Bahan Makanan
Kadar air dalam makanan dapat ditentukan dengan berbagai cara:
1.            Metode Pengeringan (Thermogravimetri)
Prinsipnya menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan berarti semua air sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah. Kelemahannya antara lain:
1.    Bahan lain di samping air juga ikut menguap dan ikut hilang bersama dengan uap misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri, dan lain-lain.
2.    Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang menghasilkan air atau zat mudah menguap lain. Contoh gula mengalami dekomposisi atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi dan sebagainya.
3.    Bahan yang mengandung bahan yang dapat mengikat air secara kuat sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan.

2.         Metode Destilasi (Thermovolumetri)
Prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah menguapkan air demgan “pembawa” cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi daripada air dan tidak dapat campur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah daripada air. Zat kimia yang dapat digunakan antara lain: toluen, xylen, benzen, tetrakhlorethilen dan xylol.
Cara penentuannya adalah dengan memberikan zat kimia sebanyak 75-100 ml pada sampel yang diperkirakan mengandung air sebanyak 2-5 ml, kemudain dipanaskan sampai mendidih. Uap air dan zat kimia tersebut diembunkan dan ditampung dalam tabung penampung. Karena berat jenis air lebih besar daripadazat kimia tersebut maka air akan berada dibagian bawah pada tabung penampung. Bila pada tabung penampung dilengkapi skala maka banyaknya air dapat diketahui langsung. Alat yang dipakai sebagai penampung ini antara lain tabung Strak-Dean dan Sterling-Bidwell atau modifikasinya
1.    Metode Khemis
A.  Cara Titrasi Karl Ficher
B.  Cara Kalsium Karbid
C.  Cara Asetil Klorida
D.  Metode Fisis
Ada beberapa cara penentuan kadar air cara fisis antara lain:
1.    Berdasarkan tetapan dielektrikum.
2.    Berdasarkan konduktivitas listrik (daya hantar listrik) atau resistansi
3.    Berdasarkan resonansi nuklir magnetic.
4.    Metode khusus misalnya dengan kromatografi, Nuclear Magnetic-Resonance (Slamet Sudarmaji, 1989: 57-70).

















BAB II

Alat dan Bahan untuk penentuan kadar karbohidrat
Bahan                            :
1.    Sampel mi instan.
2.    HCl 3%.
3.    NaOH 3,25%.
4.    Indikator PP.
5.    CH3COOH 3%.
6.    Aquadest.
7.    Luff.
8.    KI 20%.
9.    H2SO4 25%.
  . Tio 0,1 N.
1. Indikator kanji

Alat                                :
1.    Erlenmeyer.
2.    Gelas Ukur.
3.    Spatula.
4.    Neraca Digital.
5.    Pendingin tegak.
6.    Waterbath.
7.    Labu ukur 250 ml.
8.    Pipet tetes.
9.    Corong.
10.  Pengaduk.
11.  Labu Semprot.
12.  Kertas Saring.
13.  Pipet volume 10 ml.
14.  Pipet Volume 25 ml.
15.  Buret.
16.  Gelas Piala.
17.  Statif.
                                   
Alat dan Bahan untuk penentuan kadar air
Alat                                :
1.    Petridisk
2.    Kasa Asbes
3.    Gegep
4.    Neraca analitik digital           
        
Bahan                            :
1.    Sampel mi instan.

Prosedur Kerja penetuan kadar karbohidrat       :
1.   Ditimbang sampel sebanyak  ± 2 gram ke dalam erlenmeyer.
2.   Ditambahkan 25 ml HCl 3 %.
3.   Dididihkan diatas waterbath selama 1 jam dengan pendingin tegak.
4.   Didinginkan dan dinetralkan dengan NaOH 3,25% (digunakan indikator PP). Kemudian ditambahkan sedikit CH3COOH 3% agar suasana larutan sedikit asam.
5.   Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml
6.   Dihimpitkan dan dihomogenkan.
7.   Disaring, lalu diambil filtratnya.
8.   Dipipet sebanyak 10 ml (filtrat) ke dalam erlenmeyer
9.   Ditambahkan 25 ml Luff, beberapa butir batu didih dan 15 ml Aquadest, lalu tutup dengan pendingin tegak.
10.      Dididihkan diatas waterbath selama 10 menit dimulai pada saat mendidih atau endapan merah bata yang terbentuk tidak bertambah lagi.
11.      Didinginkan didalam bak yang berisi es.
12.      Ditambahkan KI 30% sebanyak 15 ml dan 25 ml H2SO4 25%.
13.      Dititrasi dengan tio 0,1 N terstandarisasi dengan indikator kanji, Hasil penitaran (S ml).
14.      Dibandingkan terhadap blanko.
Untuk pengerjaan blanko , dipipet larutan luff 25 ml (pipet volume) ke dalam erlenmeyer, ditambahkan 15 ml aquadest, ditambahkan 15 ml larutan KI 20%, ditambahkan dengan hati-hati 25 ml H2SO4 25%. Lalu dititar dengan larutan tio 0.1 N dan kanji sebagai indikator. (B ml)



Prosedur penentuan kadar air   :
1.    Disiapkan wadah (tempat) sampel yang bersih,
2.    Dikeringkan dalam oven pada suhu 105OC selama kurang – lebih 10 menit,
3.    Didinginkan dalam eksikator , setelah dingin ditimbang sebagai wadah kosong (W1),
4.    Ditimbang sampel (Ws) 2 – 3 gram kedalam wadah yang telah diketahui bobotnya,
5.    Wadah yang berisi sampel dikeringkan didalam oven pada suhu 105OC, selama 3 jam, didinginkan, dan timbang, dan
6.    Diulangi pekerjaan ini hingga diperoleh bobot tetap (W2).


















BAB III

A). Hasil Pengamatan Penentuan Kadar Karboidrat
·         Bobot sampel ( Ws )                                                               : 2,0023 g.
·         Volume tio pada penitaran larutan blanko (B ml  )           : 18,70 ml.
·         Volume tio pada penitaran larutam sampel (S ml)           : 8,70 ml.
·         Konsentrasi tio                                                                                    : 0,1034 N.
·         Faktor pengenceran ( fp )                                                     :
·         Warna sebelum ditambah indicator                                                : kuning gading
·         Warna setelah  ditambah indicator                                     : biru
·         Warna setelah titik akhir                                                       : warna biru hilang

Hasil Pengamatan Penentuan Kadar Air
·         Bobot petridisk kosong + sampel (W1)                                     :38 ,22920 g
·         Bobot contoh (Ws)                                                                      : 2,0157    g
·         Bobot petridisk kosong + sampel setelah pengeringan (W2)  : 38,1409 g
 





BAB IV
PENUTUP
    A.  Kesimpulan :
1.   Penetapan Kadar Karbohidrat dalam sampel Mie Instan
Dari praktikum yang telah dilakukan, telah diperoleh data pengamatan dan hasil perhitungan sehingga didapatkan kadar karbohidrat yang terkandung dalam sampel mie instan sebanyak 29,08%.
2.   Penetapan Kadar Air dalam sampel Mie Instan
Dari praktikum yang telah dilakukan, telah diperoleh data pengamatan dan hasil perhitungan sehingga didapatkan kadar air yang terkandung  dalam sampel mie instan sebanyak 4,38 %
    B.  Pembahasan :
Penetapan Kadar Air dalam sampel Mie Instan
Dari hasil yang didapatkan kadar air tidak melebihi kadar karbohidrat yang telah ditetapkan berdasarkan SNI yaitu kadar air maksimal adalah 14,5 % , jadi produk aman di konsumsi

    C.  Saran :
Saat dilakukan pengamatan seharusnya praktikan lebih teliti dalam melakukan praktikum 






DAFTAR PUSTAKA



 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar