BAB I
PENDAHULUAN
A.
Judul Penetapan :
1. Penenetapan Kadar Karbohidrat Metode Luff.
2. Penenetapan Kadar Air.
Tujuan Penetapan :
1. Untuk mengetahui kadar karbohidrat yang
terkandung dalam sampel mie instant menggunakan metode luff.
2. Untuk mengetahui kadar air dalam sampel
mie instan indomie.
Dasar Prinsip :
1. Polisakarida dihidrolisis ole asam (HCl)
membentuk monosakarida, kemudian dioksidasi oleh larutan luff sehingga larutan
luff mengalami reduksi ( merah bata ), kelebihan luff direduksi lagi dengan KI
dalam suasana asam dan membebaskan I2, Iod yang trbentuk dititrasi
sengan larutan tio sehingga titik akhir tercapai.
2. Sampel dipanaskan pada suhu 105ºC
sehingga melepaskan air, kehilangan bobot pada proses pemanasan diitung sebagai
bobot air.
Reaksi :
Reaksi kadar karbohidrat
(C6H10O5)n
+ nH2O → nC6H12O6
C6H12O6 +
2CuO → Cu2O
+ C5H11O5 + COOH
Sisa CuO + 2KI + H2SO4 → CuI2 + K2SO4 +
H2O
Cu2I2
→ C2I2 + I2
I2 + Na2S2O3 → 2NaI + Na2S4O
B.
Landasan Teori :
1.
Landasan teori penentuan kadar karboidrat
Karbohidrat
Karbohidrat merupakan
persenyawaan antara karbon, hidrogen dan oksigen yang terbentuk di alam dengan
rumus umum Cn(H2O)n. Melihat rumus empiris tersebut, maka senyawa
ini dapat diduga sebagai ”hidrat dari karbon”, sehingga disebut karbohidrat.
Rumus empiris seperti itu tidak hanya dimiliki oleh karbohidrat melainkan juga
oleh hidrokarbon seperti asam asetat. Oleh karena itu suatu senyawa termasuk
karbohidrat tidak hanya ditinjau dari rumus empirisnya saja, tetapi yang paling
penting ialah rumus strukturnya. Dari rumus struktur akan terlihat bahwa ada
gugus fungsi penting yang terdapat pada molekul karbohidrat yaitu gugus fungsi
karbonil (aldehid dan keton). Gugus-gugus fungsi itulah yang menentukan sifat
senyawa tersebut. Berdasarkan gugus yang ada pada molekul karbohidrat, maka
senyawa tersebut didefinisikan sebagai polihidroksialdehida dan
polihidroksiketon (Tim Dosen Kimia, 2011).
Karbohidrat adalah polihidroksi
aldehid/keton dengan rumus empirik (CH2O)n. Karbohidrat
digolongkan sebagai monosakarida atau gula (satu unit aldehida/keton);
oligosakarida (beberapa unit monosakarida); dan polisakarida, molekul besar
linear atau bercabang yang mengandung banyak unit mosakarida. Monosakarida atau
gula sederhana memiliki satu unit aldehida atau keton. Golongan ini juga
mempunyai sedikitnya satu atom karbon asimetrik, dan karenanya terdapat dalam
bentuk stereoisomer. Gula yang paling banyak terdapat di alam, seperti ribose,
glukosa, fruktosa dan monosakarida adalah rangkaian gula D. Gula sederhana
dengan 5 atau lebih atom karbon dapat berada dalam bentuk cincin-tertutup
hemiasetal, sebagai furanosa (cincin beranggota-lima) atau piranosa (cincin
beranggota-enam). Furanosa dan piranosa terdapat dalam proses mutarotasi. Gula
yang dapat mereduksi senyawa oksidator disebut gula pereduksi (Lehninger,
1997).
Karbohidrat adalah zat organik utama yang
terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya mewakili 50 sampai 75 persen dari
jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak. Karbohidrat sebagian besar
terdapat dalam biji, buah dan akar tumbuhan. Zat tersebut terbentuk oleh proses
fotosintesis, yang melibatkan kegiatan sinar matahari terhadap hijauan daun.
Hijauan daun merupakan zat fotosintetik aktif pada tumbuh-tumbuhan. Zat
tersebut merupakan molekul yang rumit dengan suatu struktur yang serupa dengan
struktur hemoglobin, yang terdapat dalam darah hewan. Hijauan daun mengandung
magnesium : hemoglobin mengandung besi. Lebih terperinci lagi, karbohidrat
dibentuk dari air (H2O) berasal dari tanah, karbondioksida (CO2)
berasal dari udara dan energi berasal dari matahari. Suatu reaksi kimiawi
sederhana yang memperlihatkan suatu karbohidrat (glukosa) disintesis oleh
fotosintesis dalam tumbuh-tumbuhan adalah sebagai berikut (Lakitan, 2007):
6CO2 + 6H2O +
673 cal —-> C6H12O6 + 6 O2
Karbohidrat adalah senyawa yang menyimpan
energi kimia yang juga merupakan sumber energi utama bagi makhluk hidup. Pada
hewan dan manusia energi tersebut disimpan dalam bentuk glikogen sedangkan pada
tumbuhan dalam bentuk pati. Selain itu, karbohidrat dapat disimpan dalam bentuk
selulosa, hemiselulosa, pektin, khitin, dan lignin yang merupakan kerangka
makhluk hidup (misalnya; selulosa yang terdapat pada dinding sel hewan berperan
sebagai komponen utama dinding sel tumbuhan, dan peptidoglikan terdapat di
dinding sel bakteri). Secara umum, karbohidrat digolongkan menjadi tiga yaitu
monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Namun, seringkali oligosakarida
digolongkan ke dalam polisakarida (Anonim, 2011)
Ditinjau dari segi gizi, karbohidrat
merupakan segolongan senyawa-senyawa penting karena merupakan sumber energi
yang palin ekonomis da paln tersebar luas. Bahan pangan yang dihasilkan di
dunia sebagian terbesar terdiri dari bahan pangan yang kaya akan karbohidrat.
Metode Luff Schoorl adalah berdasarkan
proses reduksi dari larutan Luff Schoorl oleh gula-gula pereduksi (semua monosakarida,
laktosa dan maltosa). Hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida yang dapat
mereduksikan Cu2+ menjadi Cu1+.
Gula
reduksi Luff Schoorl
Cu2+ + 4 I- → CH2I2 I2
I2 + 2 NaS2 → 2 NaI + Na2S4O2
Sukrosa
tidak memiliki sifat-sifat mereduksi, karena itu untuk menentukan kadar sukrosa
harus dilakukan inversi terlebih dahulu menjadi glukosa dan fruktosa.
Dalam
hal ini kadar sukrosa harus diperhitungkan dengan faktor 0,95 karena pada
hidrolisis sukrosa berubah menjadi gula invert.
C12H22O11 + H2O → 2C6H12O6
Sukrosa gula reduksi
Karbohidrat
terdiri dari bermacam-macam dan menurut ukuran molekul dapat dibagi dalam tiga
golongan, yaitu
1
Monosakarida,
karbohidrat yang paling sederhana susunan molekulnya dan tidak diuraikan lagi.
Golongan ini yaitu glukosa dan fruktosa.
2
Disakarida,
karbohidrat yang terdiri dari 2 molekul monosakarida. Golongan ini yaitu sukrosa,
maltosa dan laktosa.
3
Polisakarida,
karbohidrat yang terdiri dari banyak molekul monosakarida. Golongan ini yaitu
patim glikogen dan selulosa
Penentuan Karbohidrat dengan Metode Luff
Schoorl
Pengukuran
karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini
didasarkan pada reaksi sebagai berikut :
R-CHO + 2 Cu2+ → R-COOH + Cu2O
2 Cu2+ + 4 I- → Cu2I2 + I2
2 S2O32- + I2 → S4O62- + 2 I-
Monosakarida
akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO
akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut
dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada
dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita
akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan
kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2)
bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4)
dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida
berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno
2007). I2 bebas ini selanjutnya akan
dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks
iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu
titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik
ekivalen.
Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan
adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan
dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap
iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal
H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion
iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan
I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Rivai,
2005).
Metode
Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang
berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff
Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat
kesalahan sebesar 10%. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran
yaitu dengan penentuan Cu tereduksi dengan I2 dan menggunakan prosedur Lae-Eynon
(Anonim 2009).
Metode
Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang
konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa
hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.
Mie Instan
Mie instan adalah sebuah produk yang dibuat dari
tepung gandum ataupun tepung beras sebagai bahan utamanya dengan atau
tanpa penambahan bahan lainnya. Karakterisasi didapat dari proses
pregelatinisasi dan dehidrasi menggunakan metode penggorengan ataupun metode
lainnya (Codex, 2006).
Protein dalam tepung berpengaruh pada jenis dan
kualitas produk akhir, mie instan biasanya terbuat dari tepung dengan protein
7-9.5%. Tidak hanya kualitas protein yang berpengaruh, namun asal dari protein juga
dapat menentukan kekuatan dari viskoelastis glutein yang akan menghasilkan
produk yang kenyal. Elastisitas dari mie berpengaruh pada proses pembuatan mie.
Kandungan abu bervariasi dari 0.40-0.54%. Kandungan lemak tergantung pada
target pasar mulai dari 12-20% (Owen, 2001).
Mie instan memiliki keunikan pada bentuk gelombangnya.
Gelombang yang ada pada produk mie instan memiliki fungsi untuk memaksimalkan
proses pengukusan yang kemudian digoreng sebagai helaian mie yang dipisahkan.
Proses penggorengan mie pada minyak yang panas akan membuat air dalam mie
menguap sehingga menghasilkan struktur yang berlubang-lubang pada bagian dalam
mie. Tekstur ini yang membuat mie mudah mengalami proses hidrasi dan pemasakan
(Owen, 2001). Berikut adalah syarat mutu mie instan menurut SNI.
Tabel Syarat mutu mie instan menurut
SNI (2009).
|
No
|
Kriteria Uji
|
Satuan
|
Persyaratan
|
|
1
1.1
1.2
1.3
1.4
2
3
4
4.1
4.2
5
5.1
|
Keadaan
Tekstur
Aroma
Rasa
Warna
Benda asing
Keutuhan
Kadar air
Proses penggorengan
Proses pengeringan
Kadar Protein
Mi dari terigu
|
-
-
-
-
-
%bb
%bb
%bb
%bb
|
Normal/dapat diterima
Normal/dapat diterima
Normal/dapat diterima
Normal/dapat diterima
Tidak boleh ada
Min, 90
Maks, 10,0
Maks 14,5
Min, 8,0
|
|
5.2
6
7
|
Mi bukan dari terigu
Bilangan asam
Cemaran Logam
|
%bb
Mg KOH/g minyak
|
Min, 4,0
Maks, 20
|
|
7.1
7.2
8
9
9.1
9.2
9.3
9.4
|
Timbal (Pb)
Raksa (Hg)
Arsen (As)
Cemaran mikroba
Angka lempengan total
E.coli
Salmonela
Kapang
|
mg/kg
mg/kg
mg/kg
koloni/g
APM/g
koloni/g
|
Maks, 20
Maks, 0,05
Maks, 0,5
Maks, 1.0 x 106
< 3
Negatif per 25 g
Maks, 1.0 x 106
|
Sumber: SNI 3751:2009 Tepung Terigu Sebagai Bahan
Makanan
2.
Landasan teori penentuan kadar air
Pengertian Air dan Sifat –
Sifat Air.
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu
pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini
merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki
kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.
Molekul air dapat diuraikan menjadi
unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik. Proses ini disebut elektrolisis air. Pada katoda,
dua molekul air bereaksi dengan menangkap dua elektron, tereduksi menjadi gas H2 dan ion hidrokida (OH–).
Sementara itu pada anoda, dua molekul air lain terurai menjadi gas oksigen (O2), melepaskan 4
ion H+serta mengalirkan elektron ke katoda. Ion H+ dan OH– mengalami netralisasi sehingga
terbentuk kembali beberapa molekul air. Reaksi keseluruhan yang setara dari
elektrolisis air dapat dituliskan sebagai berikut.
Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan
banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air
(misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat “hidrofilik” (pencinta air), dan
zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air (misalnya lemak dan minyak),
disebut sebagai zat-zat “hidrofobik” (takut-air). Kelarutan suatu zat dalam air
ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya
tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul
air. Jika suatu zat tidak mampu menandingi gaya tarik-menarik antar molekul
air, molekul-molekul zat tersebut tidak larut dan akan mengendap dalam air.
Air menempel pada sesamanya (kohesi)
karena air bersifat polar. Air memiliki sejumlah muatan parsial negatif (σ-)
dekat atom oksigen akibat pasangan elektron yang (hampir) tidak digunakan
bersama, dan sejumlah muatan parsial positif (σ+) dekat atom oksigen. Dalam air
hal ini terjadi karena atom oksigen bersifat lebih elektronegatif dibandingkan
atom hidrogen—yang berarti, ia (atom oksigen) memiliki lebih “kekuatan tarik”
pada elektron-elektron yang dimiliki bersama dalam molekul, menarik
elektron-elektron lebih dekat ke arahnya (juga berarti menarik muatan negatif
elektron-elektron tersebut) dan membuat daerah di sekitar atom oksigen
bermuatan lebih negatif ketimbang daerah-daerah di sekitar kedua atom hidrogen.Air memiliki pula sifat adhesi yang tinggi disebabkan oleh sifat alami
kepolarannya.
Air memiliki tegangan permukaan yang besar
yang disebabkan oleh kuatnya sifat kohesi antar molekul-molekul air. Hal ini
dapat diamati saat sejumlah kecil air ditempatkan dalam sebuah permukaan yang
tak dapat terbasahi atau terlarutkan (non-soluble); air tersebut akan berkumpul
sebagai sebuah tetesan. Di atas sebuah permukaan gelas yang amat bersih atau
bepermukaan amat halus air dapat membentuk suatu lapisan tipis (thin film)
karena gaya tarik molekular antara gelas dan molekul air (gaya adhesi) lebih
kuat ketimbang gaya kohesi antar molekul air.
Dalam sel-sel biologi dan organel-organel,
air bersentuhan dengan membran dan permukaan protein yang bersifat hidrofilik;
yaitu, permukaan-permukaan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap air.
Bentuk dan Tipe Air dalam Suatu
Bahan
Air yang terdapat dalam suatu bahan makanan terdapat
dalam tiga bentuk:
1.
Air bebas, terdapat dalam ruang-ruang antarsel
dan intergranular dan pori-pori yang terdapat pada bahan.
2.
Air yang terikat secara lemah karena terserap
(teradsorbsi) pada permukaan koloid makromolekulaer seperti protein, pektin
pati, sellulosa. Selain itu air juga terdispersi di antara kolloid tersebut dan
merupakan pelerut zat-zat yang ada di dalam sel. Air yang ada dalam bentuk ini
masih tetap mempunyai sifat air bebas dan dapat dikristalkan pada proses
pembekuan. Ikatan antara air dengan kolloid tersebut merupakan ikatan hidrogen.
3.
Air yang dalam keadaan terikat kuat yaitu
membentuk hidrat. Ikatannya berifat ionik sehingga relatif sukar dihilangkan
atau diuapkan. Air ini tidak membeku meskipun pada suhu 0o F.
Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan
kesegaran dan daya tahan bahan itu sendiri. Sebagian besar dari
perubahan-perubahan bahan makanan terjadi dalam media air yang ditambahkan atau
berasal dari bahan itu sendiri. Menurut derajat keterikatan air dalam
bahan makanan atau bound water dibagi menjadi 4 tipe, antara lain :
1.
Tipe I adalah tipe molekul air yang terikat pada
molekul-molekul air melalui suatu ikatan hydrogen yang berenergi besar.
Molekul air membentuk hidrat dengan molekul-molekul lain yang mengandung
atom-atom O dan N seperti karbohidrat, protein atau garam.
2.
Tipe II adalah tipe molekul-molekul air membentuk
ikatan hydrogen dengan molekul air lain, terdapat dalam miro kapiler dan
sifatnya agak berbeda dari air murni.
3.
Tipe III adalah tipe air yang secara fisik terikat
dalam jaringan matriks bahan seperti membran, kapiler, serat dan
lain-lain. Air tipe inisering disebut dengan air bebas.
4.
Tipe IV adalah tipe air yang tidak terikat dalam
jaringan suatu bahan atau air murni, dengan sifat-sifat air biasa.(F.G.
Winarno, 1999 : 3 – 14)
Kadar Air Dalam Bahan Makanan
Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum
dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara
terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara di
sekitarnya. Kadar air bahan ini disebut dengan kadar air seimbang. Setiap
kelembaban relatif tertentu dapat menghasilkan kadar air seimbang tertentu
pula. Dengan demikian dapat dibuat hubungan antara kadar air seimbang dengan
kelembaban relatif.
Aktivitas air dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
Aw
= ERH/100
Aw
= aktivitas air
ERH
= kelembaban relatif seimbang
Bila diketahui kurva hubungan antara kadar air
seimbang dengan kelembaban relatif pada hakikatnya dapat menggambarkan pula
hubungan antara kadar air dan aktivitas air. Kurva ini sering disebut kurva
Isoterm Sorpsi Lembab (ISL). Setiap bahan mempunyai ISL yang berbeda dengan
bahan lainnya. Pada kurva tersebut dapat diketahui bahwa kadar air yang sama
belum tentu memberikan Aw yang sama tergantung macam bahannya. Pada kadar air
yang tinggi belum tentu memberikan Aw yang tinggi bila bahannya berbeda. Hal
ini dikarenakan mungkin bahan yang satu disusun oleh bahan yang dapat mebgikat
air sehingga air bebas relatif menjadi lebih kecil dan akibatnya bahan jenis
ini mempunyai Aw yang rendah.
Penentuan Kadar Air Dalam Bahan
Makanan
Kadar air dalam makanan dapat ditentukan dengan
berbagai cara:
1.
Metode Pengeringan (Thermogravimetri)
Prinsipnya menguapkan air yang ada dalam bahan dengan
jalan pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan berarti semua
air sudah diuapkan. Cara ini relatif mudah dan murah. Kelemahannya antara lain:
1.
Bahan lain di samping air juga ikut menguap dan ikut
hilang bersama dengan uap misalnya alkohol, asam asetat, minyak atsiri, dan
lain-lain.
2.
Dapat terjadi reaksi selama pemanasan yang
menghasilkan air atau zat mudah menguap lain. Contoh gula mengalami dekomposisi
atau karamelisasi, lemak mengalami oksidasi dan sebagainya.
3.
Bahan yang mengandung bahan yang dapat mengikat air
secara kuat sulit melepaskan airnya meskipun sudah dipanaskan.
2.
Metode Destilasi (Thermovolumetri)
Prinsip penentuan kadar air dengan destilasi adalah
menguapkan air demgan “pembawa” cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih
tinggi daripada air dan tidak dapat campur dengan air serta mempunyai berat
jenis lebih rendah daripada air. Zat kimia yang dapat digunakan antara lain:
toluen, xylen, benzen, tetrakhlorethilen dan xylol.
Cara penentuannya adalah dengan memberikan zat kimia
sebanyak 75-100 ml pada sampel yang diperkirakan mengandung air sebanyak 2-5
ml, kemudain dipanaskan sampai mendidih. Uap air dan zat kimia tersebut
diembunkan dan ditampung dalam tabung penampung. Karena berat jenis air lebih
besar daripadazat kimia tersebut maka air akan berada dibagian bawah pada
tabung penampung. Bila pada tabung penampung dilengkapi skala maka banyaknya
air dapat diketahui langsung. Alat yang dipakai sebagai penampung ini antara
lain tabung Strak-Dean dan Sterling-Bidwell atau modifikasinya
1.
Metode Khemis
A. Cara Titrasi Karl Ficher
B. Cara Kalsium Karbid
C. Cara Asetil Klorida
D. Metode Fisis
Ada beberapa cara penentuan
kadar air cara fisis antara lain:
1. Berdasarkan tetapan
dielektrikum.
2. Berdasarkan konduktivitas
listrik (daya hantar listrik) atau resistansi
3. Berdasarkan resonansi nuklir
magnetic.
4. Metode khusus misalnya dengan
kromatografi, Nuclear Magnetic-Resonance (Slamet Sudarmaji, 1989: 57-70).
BAB II
Alat dan
Bahan untuk penentuan kadar karbohidrat
|
Bahan
:
1. Sampel mi instan.
2. HCl 3%.
3. NaOH 3,25%.
4. Indikator PP.
5. CH3COOH 3%.
6. Aquadest.
7. Luff.
8. KI 20%.
9. H2SO4 25%.
. Tio 0,1 N.
1. Indikator kanji
|
1. Erlenmeyer.
2. Gelas Ukur.
3. Spatula.
4. Neraca Digital.
5. Pendingin tegak.
6. Waterbath.
7. Labu ukur 250 ml.
8. Pipet tetes.
9. Corong.
10. Pengaduk.
11. Labu Semprot.
12. Kertas Saring.
13. Pipet volume 10 ml.
14. Pipet Volume 25 ml.
15. Buret.
16. Gelas Piala.
17. Statif.
Alat dan Bahan untuk penentuan kadar air
Alat
:
1.
Petridisk
2.
Kasa Asbes
3.
Gegep
4.
Neraca analitik digital
Bahan
:
1. Sampel mi instan.
Prosedur Kerja penetuan kadar karbohidrat :
1. Ditimbang sampel sebanyak ± 2 gram ke dalam erlenmeyer.
2. Ditambahkan 25 ml HCl 3 %.
3. Dididihkan diatas waterbath selama 1 jam
dengan pendingin tegak.
4. Didinginkan dan dinetralkan dengan NaOH
3,25% (digunakan indikator PP). Kemudian ditambahkan sedikit CH3COOH
3% agar suasana larutan sedikit asam.
5. Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml
6. Dihimpitkan dan dihomogenkan.
7. Disaring, lalu diambil filtratnya.
8. Dipipet sebanyak 10 ml (filtrat) ke dalam
erlenmeyer
9. Ditambahkan 25 ml Luff, beberapa butir batu
didih dan 15 ml Aquadest, lalu tutup dengan pendingin tegak.
10. Dididihkan diatas waterbath selama 10 menit
dimulai pada saat mendidih atau endapan merah bata yang terbentuk tidak
bertambah lagi.
11. Didinginkan didalam bak yang berisi es.
12. Ditambahkan KI 30% sebanyak 15 ml dan 25 ml
H2SO4 25%.
13. Dititrasi dengan tio 0,1 N terstandarisasi
dengan indikator kanji, Hasil penitaran (S ml).
14. Dibandingkan terhadap blanko.
Untuk pengerjaan blanko , dipipet larutan
luff 25 ml (pipet volume) ke dalam erlenmeyer, ditambahkan 15 ml aquadest,
ditambahkan 15 ml larutan KI 20%, ditambahkan dengan hati-hati 25 ml H2SO4
25%. Lalu dititar dengan larutan tio 0.1 N dan kanji sebagai indikator. (B ml)
Prosedur penentuan kadar air :
1. Disiapkan wadah (tempat) sampel yang
bersih,
2. Dikeringkan dalam oven pada suhu 105OC
selama kurang – lebih 10 menit,
3. Didinginkan dalam eksikator , setelah
dingin ditimbang sebagai wadah kosong (W1),
4. Ditimbang sampel (Ws) 2 – 3 gram kedalam
wadah yang telah diketahui bobotnya,
5. Wadah yang berisi sampel dikeringkan
didalam oven pada suhu 105OC, selama 3 jam, didinginkan, dan
timbang, dan
6. Diulangi pekerjaan ini hingga diperoleh
bobot tetap (W2).
BAB III
A). Hasil Pengamatan Penentuan Kadar
Karboidrat
·
Bobot sampel ( Ws ) :
2,0023 g.
·
Volume tio pada penitaran larutan blanko (B ml ) :
18,70 ml.
·
Volume tio pada penitaran larutam sampel (S ml) : 8,70 ml.
·
Konsentrasi tio :
0,1034 N.
·
Faktor pengenceran ( fp ) :
·
Warna sebelum ditambah indicator :
kuning gading
·
Warna setelah
ditambah indicator :
biru
·
Warna setelah titik akhir : warna biru
hilang
Hasil Pengamatan Penentuan Kadar Air
·
Bobot
petridisk kosong + sampel (W1) :38
,22920 g
·
Bobot contoh
(Ws) :
2,0157
g
·
Bobot
petridisk kosong + sampel setelah pengeringan (W2) : 38,1409 g
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan :
1.
Penetapan Kadar Karbohidrat dalam sampel Mie Instan
Dari praktikum yang telah dilakukan, telah diperoleh data
pengamatan dan hasil perhitungan sehingga didapatkan kadar karbohidrat yang
terkandung dalam sampel mie instan sebanyak 29,08%.
2.
Penetapan Kadar Air dalam sampel Mie Instan
Dari praktikum yang telah dilakukan, telah diperoleh data
pengamatan dan hasil perhitungan sehingga didapatkan kadar air yang
terkandung dalam sampel mie instan
sebanyak 4,38 %
B. Pembahasan :
Penetapan
Kadar Air dalam sampel Mie Instan
Dari
hasil yang didapatkan kadar air tidak melebihi kadar karbohidrat yang telah
ditetapkan berdasarkan SNI yaitu kadar air maksimal adalah 14,5 % , jadi produk
aman di konsumsi
C. Saran :
Saat
dilakukan pengamatan seharusnya praktikan lebih teliti dalam melakukan
praktikum
DAFTAR PUSTAKA
·
http://kimiaterpadusmakma47fachriah3c.blogspot.co.id/2013/12/laporan-lengkap-nama-nur-rahmadani.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar